SEASON OF THE WITCH

Genre          : Thriller

Sutradara : Dominic Sena

Skenario   : Bragi F. Schut

Pemain     : Nicolas Cage, Ron Perlman, Claire Foy

 

Bertahun-tahun sudah Behmen (Nicolas Cage) dan Felson (Ron Perlman) hidup dalam peperangan. Insting mereka sudah terasah tajam sementara naluri mereka sebagai petarung juga tak bisa dianggap remeh. Sayangnya, kedua prajurit Perang Salib ini tak sadar kalau tugas yang bakal mereka hadapi ini ternyata jauh lebih mengerikan dari pertempuran yang pernah mereka alami.

Betapa kecewa Behmen dan Felson saat pulang ke kampung halaman mereka dan mendapati tanah kelahiran mereka hancur porak-poranda, bukan karena musuh namun karena wabah yang telah melanda tanah itu. Jarang yang bisa selamat dari wabah mematikan dan satu-satunya harapan yang tersisa hanyalah Behmen dan Felson. Gereja memerintahkan Behmen dan Felson untuk menangkap dan membawa seorang gadis muda bernama Anna (Claire Foy) yang dituduh sebagai penyebab dari wabah mengerikan itu ke sebuah biara agar wabah ini segera berakhir.

Anna harus mengikuti sebuah ritual pembersihan yang akan mengakhiri badai kematian yang sedang melanda seluruh daratan Eropa ini. Behmen dan Felson tak sendiri. Ada seorang pendeta bernama Debelzaq (Stephen Campbell Moore), seorang prajurit bernama Eckhardt (Ulrich Thomsen, seorang penipu bernama Hagamar (Stephen Graham), dan seorang pemuda bernama Kay (Robert Sheehan). Tak satu pun dari mereka yang sadar seberapa besar bahaya yang bakal mereka hadapi dalam perjalanan membawa Anna ke biara terpencil itu. Dan tak seorang pun yang tahu siapa sebenarnya Anna.

Nicholas Cage memperpanjang rentang peran yang dimainkannya dengan bermain dalam Season of The Witch”, gabungan antara horror dan sejarah yang tidak terlalu jelek tetapi juga tidak bisa dibilang memikat. Peran yang agak  “aneh”  seperti ini bukanlah sebuah masalah bagi Cage yang tetap bisa tampil bagus dalam peran apapun. Tetapi dia dan co-star Ron Perlman terlalu pintar, terlalu tajam, dan terlalu kontemporer untuk berperan sebagai swordsmen di era 1300an. Walaupun punya twist yang bagus, film ini pada akhirnya lebih mirip dengan film yang bercerita tentang polisi yang berteman (buddy-cop movie). Mungkin, begitu lelahnya banyak orang dengan melihat pilihan-pilihan film Nicolas Cage, maka kebanyakan dari mereka akan mengira bahwa mereka akan melihat Cage dalam kemampuan akting yang sangat menyedihkan di dalam film ini. Sama sekali tidak. Sebagai seorang ksatria bernama Behmen, seorang karakter yang sedikit bicara lewat kata-kata dan lebih sering bertindak lewat pedangnya, Cage sama sekali tidak mengecewakan. Ron Perlman yang mendampinginya juga tampil baik dalam menghidupkan tiap dialog – yang terkadang menjadi unsur komedi dalam film ini – yang ia miliki. Walaupun tidak ada yang sama sekali menonjol, jajaran pemeran pendukung film ini juga berhasil membawakan ritme “Season of the Witch” dengan cukup baik.

Landscape yang ada sangat indah, adegan pertarungan digarap bagus, skenario oleh Bragi Schut menyimpan sebuah potensi cerita yang bagus, yaitu kekuatan supranatural yang menyebabkan wabah penyakit. Yang benar-benar menjadi masalah dari film ini, dan merupakan sebuah kesalahan yang sangat fatal, adalah alur kisah yang berjalan terlalu familiar dan disajikan dengan ritme yang benar-benar berjalan lamban. Begitu lambannya ritme film ini berjalan, beberapa orang akan merasa bahwa durasi 98 menit yang dihadirkan oleh Dominic Sena terasa lebih panjang dari seharusnya. Ini terjadi akibat Sena tidak mampu melengkapi film ini dengan kadar intensitas ketegangan yang kuat dalam merangkai kisah perjalanan para karakternya. Tentu, di perjalanannya, karakter-karakter ini menemui banyak hambatan: mulai dari serangan zombie dalam wujud serigala, jembatan yang dapat melenyapkan nyawa mereka, godaan dari sang penyihir dan masih banyak hal lainnya. Namun, hal ini disajikan dengan ritme yang hampir dapat dikatakan mendatar dan dengan tata efek yang juga tidak begitu memukau.

Satu-satunya kesempatan Season of the Witch dapat memulihkan kembali jalan cerita yang terlanjur melempem berada di babak akhir kisah ini, dimana para anggota perjalanan tersebut harus menghadapi “sesuatu” yang merupakan penyebab sebenarnya dari wabah tersebut. Dalam rangkaian adegan ini, Sena cukup berhasil merangkai deretan adegan aksi yang walaupun tidak istimewa, namun setidaknya masih mampu memiliki kualitas intensitas cerita yang berada di atas adegan-adegan sebelumnya yang dihadirkan.

Apakah Season of the Witch benar-benar memenuhi ekspektasi bahwa film ini seburuk prasangka banyak orang? Mungkin benar. Dari sisi cerita, Season of the Witch memang tidak mampu berkata apa-apa. Tiap adegan disajikan dengan tanpa kehadiran karakterisasi maupun jalinan emosional yang kuat dan masih ditambah dengan ritme lamban yang dipilih Sena dan justru menyebabkan film ini berjalan begitu membosankan. Tidak mengherankan jika kemudian para aktor yang berada di dalam jalan cerita film ini terjebak dan kurang mampu dalam mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Bukan sebuah kualitas akhir yang dapat kembali mencerahkan filmografi seorang Nicolas Cage (atau memperbaiki reputasi buruk seorang Dominic Sena).

referensi1 referensi2

Advertisements

Leave a comment

Filed under video analysis

THE MECHANIC

 

Orang mengenal Arthur Bishop (Jason Statham) sebagai The Mechanic. Bukan karena apa tapi karena pria yang satu ini memang benar-benar profesional. Ia bekerja layaknya sebuah mesin yang tak kenal kata salah. Karena itu pula Arthur selalu menjadi yang terbaik di bidangnya. Tapi itu semua berubah saat sebuah kejadian tragis menimpa Arthur.

Arthur adalah seorang pembunuh bayaran yang sangat berbakat. Membunuh bukan sekedar tugas buat Arthur tapi sudah seperti gaya hidup. Semua target berhasil dihabisi Arthur dan satu yang selalu dipegang Arthur adalah bahwa ia tak pernah melibatkan emosi, apa pun yang terjadi. Saat Harry (Donald Sutherland), guru sekaligus partner Arthur, terbunuh, hanya satu yang ada di kepala Arthur. Ia harus mencari siapa yang bertanggung jawab atas kematian Harry.

Di saat yang sama, Steve (Ben Foster), putra Harry, tiba-tiba mendatangi Arthur dengan dendam yang sama. Steve memohon agar ia dilibatkan dan untuk pertama kalinya, Arthur bekerja dengan cara yang tak lazim. Ia sudah melibatkan emosi dan ia mulai mengajak orang yang tak berpengalaman dalam perburuan kali ini.

Membuat remake adalah salah satu cara paling gampang untuk memastikan sebuah film sukses. Di lain sisi, cara ini juga cara paling berbahaya karena sedikit salah langkah maka bukan keuntungan yang didapat tapi caci-maki para penonton yang kecewa. Sebagai sebuah remake, THE MECHANIC ini bisa dibilang lumayan sukses.

Dari sisi visual, versi baru ini jelas lebih terlihat ‘indah’ ketimbang versi Charles Bronson yang beredar 1972. Paling tidak, aksi laga terlihat lebih memukau sementara tempo pun dijaga pada kecepatan tinggi dan tak mau sedikit pun melambat untuk menarik nafas. Sayangnya, ketegangan yang dibentuk hanya berwujud visual dan tak sampai masuk ke level psikologis.

Skenario pun mengalami beberapa perubahan agar kisah klasik ini jadi lebih relevan dengan situasi modern saat ini namun sayangnya pembentukan karakter sepertinya kurang berimbang. Arthur Bishop jelas mendapatkan porsi lebih besar sementara karakter Steve McKenna terlihat sangat tipis. Bisa jadi ini terjadi karena Jason Statham memang sudah tak asing lagi dengan peran-peran seperti ini. Terlepas dari itu, chemistry di antara Statham dan Foster sepertinya tak bisa terbentuk dengan baik.

Dengan durasi 92 menit, “The Mechanic” memuaskan penggemar film laga dengan adegan-adegan spektakuler, dikemas dengan alur cerita tak membosankan. Kisahnya berdasar pada profil Arthur, pembunuh bayaran yang menjalankan tugasnya dengan rapi, membungkus diri sebagai seorang mekanik dan penghobi otomotif.

Sutradara Simon West ini berhasil menyajikan film ini sebagai gabungan antara laga dan juga petualangan Arthur Bishop bersama juniornya, Steve McKenna, yang diperankan Ben Foster. Bersama-sama mereka berdua membereskan satu demi satu order, hingga kongsi keduanya pun berakhir dengan tragis.

Moral story film ini, bagaimana profesionalisme seseorang menuntunnya bekerja sesuai dengan job description, tanpa banyak bicara, kehati-hatian dan suksesnya sebuah misi. Namun, pada akhirnya setiap pekerjaan itu akan berpulang pada nilai moral yang diembannya. Mereka yang bekerja dalam dunia gelap, tak akan pernah lepas dari ketakutan, perasaan bersalah, dan saling curiga, termasuk pada rekan terdekatnya sendiri. Value akan visi di balik pekerjaan inilah yang akan memimpin kita pada ketenangan dan kenyamanan bekerja.

referensi1

Leave a comment

Filed under video analysis

THE WAY BACK

Produser   : Joni Levin, Peter Weir, Duncan Henderson, Nigel Sinclair
Produksi   : Newmarket Films
Durasi         : 133 menit
Pemain      : Colin Farrell, Ed Harris, Jim Sturgess, Saoirse Ronan
Sutradara : Peter Weir
Penulis       : Peter Weir & Keith Clarke

Sebuah kisah petualangan yang menggambarkan kaburnya sekelompok tahanan dari tentara Siberia pada tahun 1940, dan melakukan perjalanan ribuan kilometer melintasi lima negara bertikai untuk memperoleh kebebasan mereka.

Film ini berdasarkan buku memori Slavomir Rawicz ketika ia melakukan pelarian dari tentara Siberia dan harus melewati perjalanan kaki sejauh 4000-mile di India. Buku ini terjual habis sebanyak 500,000 kopi dan menginspirasi banyak penjelajah. Bukunya diberi judul “The Long Walk”. Namun di tahun 2009, tahanan lain yang bernama Witold Gliski mengklaim bahwa buku Rawicz tersebut bercerita tentang pelariannya.

The Way Back, dengan cerita epik dan setting yang spektakuler, mau tidak mau mengundang perbandingan dengan Lawrence of Arabia dan Dr. Zhivago. Semuanya dipenuhi medan lokasi yang berat. The Way Back memang mempunyai setting yang bagus, tapi tidak demikian halnya dalam hal substansi. Tanpa harus dibandingkan dengan film-film klasik tadi, film ini memiliki kekurangan dalam hal perkembangan karakter.


Lokasi di Bulgaria, India, dan Maroko membuat film yang bercerita tentang pelarian tahanan Soviet menjadi lebih otentik. Ada momen-momen yang menggembirakan, dan ada juga saat-saat yang betul-betul menegangkan. Kedua hal ini membuat kisah pelarian menjadi lebih sulit daripada yang anda bayangkan.

Peter weir adalah seorang sutradara yang benar-benar mahir. Film pertamanya, Gallipoli (1981), adalah sebuah epik perang yang mengejutkan. Bahkan film-filmnya yang bersifat komersial (The Truman Show, Master and Commander) tetap menampilkan sentuhan-sentuhan artistik.

Diklaim sebagai berdasarkan pada kisah nyata tentang tahanan di penjara Siberia yang melarikan diri, cerita pada The way Back berfokus pada beberapa laki-laki dan seorang perempuan yang menempuh perjalanan sejauh 4000 mil di dataran Siberia yang keras dan Gurun Gobi nan luas di Mongolia.

Cerita film ini terjadi kira-kira pada saat Perang Dunia ke-2. Karakter yang ditampilkan adalah tahanan Polandia Janusz (Jim Sturgess), penjahat Rusia Valka (Collin Farrel), orang Amerika yang penyendiri Mr. Smith (Ed Harris), dan Irena yang masih muda (Saoirse Ronan). Mereka semua berjuang di tengah hutan dengan temperatur yang membekukan dan harus melawan kelaparan karena keterbatasan makanan dan air. Mereka juga harus melawan serigala lapar dan sempat berpikir tentang kanibalisme.

Terinsipirasi dari book berjudul The Long Walk: The True Story of a Trek to Freedom, film ini memantul antara film yang memberi inspirasi dengan film membosankan. Tak perlu diragukan, perjalanan panjang memang mengandung 2 hal ini.

The Way Back, dengan durasi lebih dari 2 jam, terasa amat lama. Kecuali momen keputusasaan yang dalam, karakter yang ada tidak diberi sifat yang bisa membedakan satu dengan lainnya. Semuanya terasa datar-datar saja. Bagaimanapun, The Way Back adalah sebuah proyek ambisius dari Peter Weir yang layak tonton.

referensi1

Leave a comment

Filed under video analysis

KILLERS

Genre         : Action commedy romance
Sutradara : Robert Luketic
Pemeran   : Katherine Heigl, Ashton Kutcher, Tom Selleck, Catherine O’Hara
Distribusi : Lionsgate
Rilis            : 4 Juni 2010

“Killers” menceritakan tentang Spencer Aimes, seorang pemuda biasa yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai pembunuh bayaran pemerintah. Suatu hari, ia bertemu dengan Jen Kornfeldt, seorang teknisi komputer yang tengah berlibur bersama kedua orangtuanya dan baru saja berpisah dari pacarnya.

Dari pertemuan tersebut, muncullah benih-benih asmara diantara mereka hingga akhirnya Spencer dan Jen menikah. Akan tetapi, tiga tahun kehidupan pernikahan yang damai kemudian dirusak dengan mengetahui kenyataan bahwa Spencer telah menjadi target pembunuhan bernilai jutaan dolar. Parahnya lagi, para pembunuh bayaran yang mengincar mereka ternyata telah mengikuti pasangan Spencer dan Jen selama ini dan mereka bisa menjadi siapa saja; teman, tetangga ataupun pegawai toko. Sembari berusaha menyelamatkan jiwa mereka, pasangan suami istri ini berusaha mencari tahu siapa dalang dan alasan mengapa ia ingin Spencer mati.

Film “Killers” kembali mempertemukan sutradara “The Ugly Truth”, Robert Luketic, dengan Katherine Heigl. Selain Katherine, film komedi action ini juga diperankan oleh Ashton Kutcher, Tom Selleck, Catherine O’Hara dan LeToya Luckett.

Jalinan cerita sinopsis memang menarik, tetapi nuansa komedi romantis masih kurang terasa. Ashton Kutcer yang sekarang menjadi suami Demi Moore dan pernah membawa acara jail-jailan versi Amrik, masih membawa nuansa humor serius yang membuat permirsa akan sulit untuk tertawa, setidaknya cukup tersenyum saja.

referensi1 referensi2

Leave a comment

Filed under video analysis

DIE HARD 4

 

Pemain       :  Bruce Willis, Justin Long, Timothy Olyphant, Cliff Curtis, Maggie Q, Mary

Elizabeth Winsted, Kevin Smith

Sutradara  :  Len Wiseman

Durasi          :  130 menit

Release        :  Awal Juli 2007

 

Film Die Hard merupakan sebuah film action yang bikin penonton tercengang. Karena kesuksesannya kini film tersebut muncul kembali menjadi film keempatnya, Die Hard : Life Free Or Die Hard.

Dikisahkan, McClane telah memiliki seorang putri bernama Lucy. Kehadiran anaknya ini justru membuat ia merasa terasing dalam kehidupan rumah tangganya. Pada saat yang sama negaranya menghadapi ancaman teroris dunia maya. Penjahat ini mencoba mengacaukan jaringan sistem DNA teknologi komputer. Awalnya, polisi menduga ancaman itu dilakukan seorang hacker muda, Matt Farrel. Namun belakangan diketahui teror berasal dari kelompok yang jauh lebih mahir. McClane dibantu Matt berupaya mengungkap dalang di balik teror yang dapat melumpuhkan seluruh infrastruktur di Amerika Serikat.

Sosok yang mereka cari adalah Thomas Gabriel. Dengan bantuan hacker asal Hongkong, Mai Lihn, berhasil menguasai seluk-beluk jaringan komputer di AS. Thomas dan McClane pun berpacu untuk saling menaklukkan. Baik di dunia nyata maupun maya.

Film ini menyuguhkan aksi mendebarkan khas Die Hard. Film garapan sutradara Len Wiseman ini juga menyelipkan adegan-adegan humor segar. Pakem Die Hard era 1998-an masih kental.

Cerita mengalir dengan sangat menarik dan penuh ketegangan. Yang menarik bagi saya disamping aksi Bruce Willis, terutama mengenai dilibatkannya seorang programmer komputer di film ini. Lumayan banyak kejadian-kejadian yang berhubungan dengan sistem komputer yang mungkin tidak semua orang langsung ngeh dalam memahaminya. Bagi sebagian orang mungkin sulit untuk bisa mengerti bagaimana kekacauan yang terjadi di film itu bisa terjadi ‘hanya’ dengan memencet-mencet tombol keyboard.

Lebih jauh lagi bagaimana sampai John McClane terheran-heran bagaimana seorang remaja ini bisa tahu semua hal yang berkaitan dengan bencana cyber ini? Kalau jawaban saya pribadi sebagai (mantan) web programmer, mungkin tidak sulit untuk bisa menalar semua kejadian itu.

 

 

referensi1

Leave a comment

Filed under video analysis

RUSH HOUR 3

 

Judul Film : Rush Hour 3 (2007)
Genre           : Action, Comedy, Thriller
Sutradara   : Brett Ratner.
Skenario     : Jeff Nathanson.
Produksi    : New Line Cinema
Pemain       : Chris Tucker, Jackie Chan, Hiroyuki Sanada, Youki Kudoh, Max Von Sydow, Noemie Lenoir, Roman Polanski.
Durasi         : 90 min

‘Rush Hour 3′ dimulai dengan keterlibatan Lee menjadi pengawal duta besar Han. Saat ia bertugas, duta besar Han malah tertembak. Lee terlihat aksi kejar-kejaran dengan si penembak ulung sementara James sibuk menahan 2 orang wanita cantik demi sebuah kencan. Entah apa yang terjadi, Lee membiarkan si penembak jitu itu kabur. Terikat janji pada putri duta besar Han, Soo Yung (Zhang Jingchu) Lee dan James akhirnya berkolaborasi lagi menemukan dalang di balik peristiwa penembakan itu. Keduanya pun akhirnya terseret ke Paris dan terlibat dalam kelompok penjahat kelas kakap Triads. Mereka berhasil menyelesaikan teka-teki kejahatan Triads dengan baik. Hingga hal mengejutkan terjadi, seseorang menghianati mereka.

Tak hanya melulu berlaga, film ini juga menyuguhkan komedi yang segar. Sesekali Jackie juga bermain-main dengan kata dan membuat penonton tertawa. Apalagi tingkah dan kelakuan Chris yang  seenak jidatnya itu. Secara keseluruhan film ini boleh dibilang belum kehilangan auranya. Namun sayang, Jackie tak terlihat selincah sebelumnya. Kerutan-kerutan di wajah Jackie membuat kita ragu apakah ia mampu, tapi nyatanya Jackie masih memikat kendati demikian.

Adegan pertengkaran pun tak kalah hebohnya. Mereka tak hanya berantem di tempat biasa, melainkan memilih pemandangan terindah di kota Paris. Untuk sekedar hiburan pelepas lelah, film ini boleh jadi rekomendasi. Tak hanya melulu adegan aksi dan komedi, di sini Jackie juga menunjukan sisi humanisnya sebagai makhluk sosial. Di mana ia harus memikirkan keluarga dan teman baik yang berada di sekelilingnya.

referensi1

Leave a comment

Filed under video analysis

DATE NIGHT

 

Kebosanan biasanya adalah salah satu masalah yang dihadapi pasangan suami-istri yang telah lama menikah. Saat semua sudah menjadi kebiasaan, tidak ada yang membuat hidup mereka terasa bergairah layaknya ketika mereka baru menikah. Masalah inilah yang dihadapi oleh pasangan Phil Foster (Steve Carell) dan Claire (Tina Fey).

Sebelumnya mereka membuat sebuah ‘ritual’ yang mereka sebut ‘malam berkencan’ dengan harapan mereka bisa lepas dari rutinitas sehari-hari agar pernikahan mereka bisa tetap terasa fresh seperti beberapa tahun sebelumnya. Tapi masalahnya, ketika ‘malam berkencan’ ini sudah mereka lakukan berulang kali, acara itu juga jadi terasa membosankan dan tak beda jauh dengan rutinitas yang lain.

Tak ingin api cinta dalam pernikahan mereka padam, Phil dan Claire pun mencoba membuat acara baru. Bila sebelumnya mereka biasa makan malam bersama dan mengakhirinya dengan nonton film maka kali ini mereka mencoba mengunjungi sebuah BISTRO di Manhattan. Awalnya semua berjalan mulus sampai ada pihak yang mengira pasangan ini adalah orang yang mereka cari.

Dalam waktu singkat, acara ‘malam berkencan’ ini jadi sebuah petualangan seru yang melibatkan urusan ‘bisnis’ antara seorang kepala mafia dengan pihak kepolisian. Berawal dari keinginan membuat malam itu jadi sebuah malam yang ‘berbeda’, Phil dan Claire akhirnya mendapati diri mereka dalam sebuah petualangan yang tak akan mereka lupakan seumur hidup mereka.

Lucu memang sangat subjektif. Tiap orang punya ukuran tersendiri untuk kata lucu. Yang lucu buat satu orang belum tentu lucu buat orang lain. Satu hal yang bisa dipastikan adalah kelucuan itu tak bisa dipaksakan. Kadang justru hal yang tak disengaja bisa memunculkan kelucuan juga. Mungkin itu juga kunci kesuksesan DATE NIGHT ini. Tak ada paksaan. Semuanya terlihat mengalir wajar sehingga justru target sang sutradara membuat film komedi malah tercapai dengan baik.

Selain alur cerita yang berjalan mulus dan tak tersendat-sendat hanya karena ingin memasukkan joke, karakter yang muncul dalam film ini juga terasa meyakinkan. Steve CarellTina FeyMark Wahlberg, danRay Liotta terlihat sangat relaks saat membawakan peran mereka sehingga mau tak mau karakter yang solid ini membuat penonton jadi merasa terlibat dalam alur kisah ini.

Leave a comment

Filed under video analysis